"Yuk kita bagi Tugas. Kalian pada mau ber-Tugas dimana?" tanya Pak Ari.
"Saya mau di Sibalaya aja Pak!"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rumah - rumah Warga, Fasilitas umum, tempat ibadah hingga salah satu SD yang ada disana sudah Tidak Layak Huni, bahkan kebanyakan yang rusak parah dan rata dengan tanah.
Salah satunya adalah SDN Inpress 1. Salah satu sekolah yang berada di Desa ini mengalami Kerusakan yang parah, sehingga mengakibatkan kegiatan Civitas Sekolah tidak dapat dilaksanakan disana sampai sekolah darurat lain dibuat.
Dari 6 Ruang Kelas yang ada di SD ini, hanya tersisa 1 Ruang Kotak yg masih berdiri, itupun sudah tak beratap lagi. Setelah bencana alam itu terjadi, adik - adik Sibalaya Utara yang masih duduk di Bangku Sekolah Dasar harus menerima kenyataan bahwa mereka harus belajar di bawah Tenda Terpal sambil menunggu sekolah darurat yang pemerintah buat selesai di bangun.
Setelah bencana alam itu datang, mereka belajar dengan meja lipat seadanya, dan terpal menjadi pemisah antara tanah dengan tempat mereka duduk dan berteduh.
Baik sebelum maupun sesudah Bencana Alam, semangat mereka tidak pernah luntur dalam menuntut ilmu. Menurut kesaksian Ibu dan Bapak Guru pengajar di sekolah ini, anak - anak justru sangat antusias dalam menerima Pelajaran baru,dibuktikan dengan absen anak - anak yang bersih tanpa alfa, kecuali ika mereka benar - benar sedang sakit.
Apalagi dengan banyak nya Kakak - kakak Relawan yang datang mengunjungi mereka, membuat mereka semakin percaya diri dan bersemangat untuk bangkit dari Keterpurukan akibat bencana alam yang menimpa Sulawesi Tengah, khususnya Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi.
Paska bencana alam, kegiatan mereka setiap hari di setiap minggu nya sama, Hari Senin - Jumat Jam 7 pagi - 12 siang mereka pergi ke Sekolah (untuk SD,SMP,SMA), khusus TK&PAUD kegiatan belajar hanya sampai jam 10 pagi. Setelah itu mereka pulang sekolah, ganti baju, mengerjakan PR, serta tidur siang apabila cukup lelah, jika masih memiliki tenaga, mereka akan pergi ke Lapangan Kecamatan untuk bermain,
Tetapi biasanya mereka akan tetap stay di Lapangan setelah kegiatan di Sekolah, berharap kakak - kakak relawan dari berbagai daerah datang membawa Keceriaan, Permen, Cokelat serta barang - barang dan keperluan yang mereka butuhkan.
Ya. Hampir semua anak - anak disana seperti sudah terDoktrin oleh keadaan untuk meminta - minta pertolongan dan bantuan kepada kakak Relawan yang datang.
Cukup miris melihat keadaan disana, dan sangat menyayangkan bahwa sebagian besar tindakan menengadah mereka merupakan Doktrin dari Orang tua mereka yang selalu menggunakan "Bencana Alam" sebagai landasan dan alasan utama mengapa mereka meminta - minta.
Padahal, kami yang memang alhamdulillah bukan korban bencana alam masih memiliki hati nurani untuk membantu sesama tanpa harus mereka meminta.
"Saya mau di Sibalaya aja Pak!"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Team Trauma Healing
Dari 15 Orang yang tergabung dalam Team ini, 8 orang (termasuk saya) bertugas di Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Entah mengapa saat ditanya ingin pergi ke Daerah mana, saya langsung memilih Sibalaya. Dengar nama Desanya saja belum, apalagi datang langsung? hmm.
Singkat cerita, Desa Sibalaya Utara ini merupakan salah satu Desa di Kabupaten Sigi yang terkena dampak dari Bencana Alam yang terjadi di Sulawesi Tengah pada tanggal 28 September 2018 lalu. Gempa bumi, Likuifaksi, Tanah Longsor, dan Tanah Bergeser.
![]() |
| Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Sulawesi Utara. |
Rumah - rumah Warga, Fasilitas umum, tempat ibadah hingga salah satu SD yang ada disana sudah Tidak Layak Huni, bahkan kebanyakan yang rusak parah dan rata dengan tanah.
![]() |
| SDN Inpress 1, Sibalaya Utara |
Dari 6 Ruang Kelas yang ada di SD ini, hanya tersisa 1 Ruang Kotak yg masih berdiri, itupun sudah tak beratap lagi. Setelah bencana alam itu terjadi, adik - adik Sibalaya Utara yang masih duduk di Bangku Sekolah Dasar harus menerima kenyataan bahwa mereka harus belajar di bawah Tenda Terpal sambil menunggu sekolah darurat yang pemerintah buat selesai di bangun.
![]() |
| Suasana Belajar di Sekolah Terpal SDN Inpress 1, Sibalaya Utara |
Setelah bencana alam itu datang, mereka belajar dengan meja lipat seadanya, dan terpal menjadi pemisah antara tanah dengan tempat mereka duduk dan berteduh.
Baik sebelum maupun sesudah Bencana Alam, semangat mereka tidak pernah luntur dalam menuntut ilmu. Menurut kesaksian Ibu dan Bapak Guru pengajar di sekolah ini, anak - anak justru sangat antusias dalam menerima Pelajaran baru,dibuktikan dengan absen anak - anak yang bersih tanpa alfa, kecuali ika mereka benar - benar sedang sakit.
Apalagi dengan banyak nya Kakak - kakak Relawan yang datang mengunjungi mereka, membuat mereka semakin percaya diri dan bersemangat untuk bangkit dari Keterpurukan akibat bencana alam yang menimpa Sulawesi Tengah, khususnya Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi.
Paska bencana alam, kegiatan mereka setiap hari di setiap minggu nya sama, Hari Senin - Jumat Jam 7 pagi - 12 siang mereka pergi ke Sekolah (untuk SD,SMP,SMA), khusus TK&PAUD kegiatan belajar hanya sampai jam 10 pagi. Setelah itu mereka pulang sekolah, ganti baju, mengerjakan PR, serta tidur siang apabila cukup lelah, jika masih memiliki tenaga, mereka akan pergi ke Lapangan Kecamatan untuk bermain,
Tetapi biasanya mereka akan tetap stay di Lapangan setelah kegiatan di Sekolah, berharap kakak - kakak relawan dari berbagai daerah datang membawa Keceriaan, Permen, Cokelat serta barang - barang dan keperluan yang mereka butuhkan.
Ya. Hampir semua anak - anak disana seperti sudah terDoktrin oleh keadaan untuk meminta - minta pertolongan dan bantuan kepada kakak Relawan yang datang.
Cukup miris melihat keadaan disana, dan sangat menyayangkan bahwa sebagian besar tindakan menengadah mereka merupakan Doktrin dari Orang tua mereka yang selalu menggunakan "Bencana Alam" sebagai landasan dan alasan utama mengapa mereka meminta - minta.
Padahal, kami yang memang alhamdulillah bukan korban bencana alam masih memiliki hati nurani untuk membantu sesama tanpa harus mereka meminta.
Gambar dibawah ini merupakan Sekolah Darurat yang dibuat oleh Pemda setempat agar adik - adik tidak lagi belajar dibawah terpal yang Panas apabila Matahari sedang teriknya, dan tidak kebocoran saat Hujan datang. Ya meskipun terbuat dari Besi Container, setidaknya mereka lebih terlindungi dan lebih fokus lagi untuk Belajar.
![]() |
| Sekolah Darurat SDN Inpress 1, Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah |
Hampir sebagian besar adik - adik yang tinggal di Desa Sibalaya Utara ini mengenal saya, Kak Icha. Tapi saya sangat amat merasa bersalah ketika tidak dapat menghafal nama mereka satu persatu, cukup banyak. hahaha
Ketika bertemu dijalan, atau saat mereka menghampiri saya di Posko, hal yang pertama kali saya lakukan adalah menanyakan nama mereka. Ada yang sudah lebih dari 3x saya tanyakan nama, tapi saya tidak juga hafal :'D, ya paling mereka cuma bilang "Ih kak Icha, nanya nama aku terus tapi lupa." hahahaha.
Tentu saya banyak belajar dari adik - adik disini, mereka tetap bersemangat menjalani hari - hari meskipun beberapa dari mereka saat ini memiliki Rumah yang sudah tidak seperti sedia kala lagi. Ada yang Rusak sedikit, hampir sebagian Rusak, bahkan ada salah satu dari mereka yang Rumahnya sudah Rata dengan tanah. Alhamdulillah mereka sekeluarga masih dilindungi oleh Allah swt.
Ketika disana, saya jarang sekali menanyakan perihal Kejadian Musibah yang menimpa mereka kala itu. Karena saya tau, pasti berat bagi mereka untuk menghilangkan Trauma yang mereka alami akibat Bencana itu. Tapi entah mengapa, adik - adik ini Justru malah terbuka kepada saya dan rekan - rekan relawan lain dengan menceritakan bagaimana Kondisi mereka saat Kejadian itu terjadi. Sebagian besar dari mereka bilang, "saat itu kami mau berangkat mengaji kak. kami takut dan langsung berlarian mengikuti Jalan Aspal tapi tak tahu arahnya mau kemana".
Seperti ada yang menyesakan di Dada saya saat mendengar Cerita mereka itu.
Saya langsung membayangkan, bagaimana jika saya yang mengalami kondisi seperti itu. Mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama, atau melakukan hal lain yang tak pernah terfikirkan sama sekali di otak saya.
Oh ya saya hampir lupa!
Satu kegiatan Khas yang mereka lakukan saat Rekan - rekan Relawan datang ke Desa mereka adalah menyanyikan Lagu Tragedi Palu 28 September 2018.
Jika di telaah, lirik lagu nya memang menggambarkan kondisi kejadian yang menimpa Sulawesi Tengah, 28 September 2018 di Pantai Talise, Donggala. Tapi dari saat kami pertama kali datang, mereka menyanyikan Lagu ini tanpa ada Ekspresi sedih sedikitpun, malah mereka sangat bersemangat dan antusias menyanyikan lagu ini. atau mungkin mereka ingin kami menghayati lagu ini dan secara tersirat mereka ingin menyampaikan kepada kami bahwa inilah yang kami rasakan, kak! Saking seringnya mereka menyanyikan lagu ini, baru beberapa hari disini, saya sudah hafal :'D
Bagaimana tidak, setiap diajak bernyanyi pasti mereka memilih lagu ini meskipun saya dan rekan - rekan sudah mengarahkan bahwa kita akan menyanyikan Lagu Lain, lagu anak - anak dek! bukan lagu Tragedi ituuu. Gumam saya dalam hati.
Tapi yasudahlah, saya tetap memberikan Sugesti Positif agar mereka tak mengingat Kejadian Naas itu lagi dan tetap bangkit, semangat dan ceria sebagaimana mestinya anak - anak seusia mereka.
Seusai Shalat Magrib,tepat dimalam terakhir penugasan saya dan rekan - rekan Relawan LLDIKTI Wilayah Kopertis 3 di Desa Sibalaya Utara, ada sekitar 15 orang adik - adik datang menghampiri saya, dan Relawan UNJ Rescue (Ali, Muhtar dan Fandi) yang Stay menjaga Posko yang berada di depan Kantor Kecamatan Tanambulava, Sigi. Mereka datang masih menggunakan Peralatan Shalat. Mukena dan Peci. Tak lupa pula Al-Qur'an dan Iqra ditangan mereka.
"Kak, Ayok ajari kami mengaji." Ucap mereka Kompak sekali.
"Waduh, kan kakak udah bilang hari ini kita libur mengaji dulu. Kak Icha nya mau Istirahat dulu." - Jawab Ali.
"yaaaaaaaaaaaaaaaah.......... yaudah deh." yaoke, kali ini kekecewaan terpancar dari Raut Wajah mereka.
Setelah itu, sebagian besar dari mereka pulang. Dan beberapa dari mereka tetap Stay menemani kami. Saat itu saya belum memberi tahu kepada mereka bahwa malam ini adalah malam terakhir saya berada di Desa Sibalaya Utara. Pas sekali mereka yang Justru malah datang menghampiri saya di Posko.
Malam itu, saya minta kepada mereka untuk diajari Bahasa Kaili. Logat dan kalimatnya hampir mirip Bahasa nya orang Makassar, Bahasa Bugis. Namun ternyata, ini lain. Saya yakin, di Zaman Millenial seperti saat ini, saat pertama kali bertemu Bahasa baru, pasti yang ditanya adalah........
"Kalo Bahasa nya (Saya Cinta/Sayang kamu) apa?" Ya gak sih? hahahaha
Kemudian saya menyakan hal itu kepada mereka, dan mereka menjawab "Aku Nippokonoku, kak!".
Yaoke, saya langsung mengatakan "Aku Nippokonoku, adik - adik Sibalaya Utara!!" , "Aku Nippokonoku juga, Kak Icha!" dan mereka langsung memeluk saya, erat. Tidak menjadi pengecualian yang Laki - laki pun juga ikut memeluk sayaaa! TERHARU! SUNGGUH! :')
Kejadian tadi membuat saya semakin sedih, dan tidak tega memberi tahu mereka bahwa Esok Hari saya tidak akan menemani mereka lagi disini. Tapi, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus menyampaikan ini kepada mereka.
"Besok aku pamit pulang ya............ Semoga secepatnya Kak Icha bisa main lagi kesini......"
Mereka semua terdiam dengan raut wajah sedih.
"Kak Icha jangan Pulang. Disini saja sampai Akhir hayat."
"Yah, kalau Kak Icha pulang. Sepi Sudah."
"Kak, jangan pulang. Sudah, disini saja tinggal disini."
"Kakak pulang, kami sedih."
"Kakak Cantik, sudah sudah ya disini saja."
YAALLAH, RASANYA GAMAU PULANG :"(
Mendengar kalimat - kalimat itu terlontar dari Mulut mereka, rasanya betul - betul TIDAK INGIN PULANG. Tapi itu suatu keharusan :')
"Doain aku ya supaya bisa kesini lagi, nanti kita bermain, belajar, dan mengaji bersama - sama lagi. okey?" saya hanya bisa berkata seperti ini sambil mencoba membendung air mata agar mereka tidak tambah sedih.
Kebetulan Ali merupakan salah satu anggota UKM Photography di Kampusnya, nah terbayang sudah untuk mengakhiri kesedihan ini, saya harus mengajak mereka ngapain.....
Ketika bertemu dijalan, atau saat mereka menghampiri saya di Posko, hal yang pertama kali saya lakukan adalah menanyakan nama mereka. Ada yang sudah lebih dari 3x saya tanyakan nama, tapi saya tidak juga hafal :'D, ya paling mereka cuma bilang "Ih kak Icha, nanya nama aku terus tapi lupa." hahahaha.
Tentu saya banyak belajar dari adik - adik disini, mereka tetap bersemangat menjalani hari - hari meskipun beberapa dari mereka saat ini memiliki Rumah yang sudah tidak seperti sedia kala lagi. Ada yang Rusak sedikit, hampir sebagian Rusak, bahkan ada salah satu dari mereka yang Rumahnya sudah Rata dengan tanah. Alhamdulillah mereka sekeluarga masih dilindungi oleh Allah swt.
Ketika disana, saya jarang sekali menanyakan perihal Kejadian Musibah yang menimpa mereka kala itu. Karena saya tau, pasti berat bagi mereka untuk menghilangkan Trauma yang mereka alami akibat Bencana itu. Tapi entah mengapa, adik - adik ini Justru malah terbuka kepada saya dan rekan - rekan relawan lain dengan menceritakan bagaimana Kondisi mereka saat Kejadian itu terjadi. Sebagian besar dari mereka bilang, "saat itu kami mau berangkat mengaji kak. kami takut dan langsung berlarian mengikuti Jalan Aspal tapi tak tahu arahnya mau kemana".
Seperti ada yang menyesakan di Dada saya saat mendengar Cerita mereka itu.
Saya langsung membayangkan, bagaimana jika saya yang mengalami kondisi seperti itu. Mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama, atau melakukan hal lain yang tak pernah terfikirkan sama sekali di otak saya.
Oh ya saya hampir lupa!
Satu kegiatan Khas yang mereka lakukan saat Rekan - rekan Relawan datang ke Desa mereka adalah menyanyikan Lagu Tragedi Palu 28 September 2018.
Jika di telaah, lirik lagu nya memang menggambarkan kondisi kejadian yang menimpa Sulawesi Tengah, 28 September 2018 di Pantai Talise, Donggala. Tapi dari saat kami pertama kali datang, mereka menyanyikan Lagu ini tanpa ada Ekspresi sedih sedikitpun, malah mereka sangat bersemangat dan antusias menyanyikan lagu ini. atau mungkin mereka ingin kami menghayati lagu ini dan secara tersirat mereka ingin menyampaikan kepada kami bahwa inilah yang kami rasakan, kak! Saking seringnya mereka menyanyikan lagu ini, baru beberapa hari disini, saya sudah hafal :'D
Bagaimana tidak, setiap diajak bernyanyi pasti mereka memilih lagu ini meskipun saya dan rekan - rekan sudah mengarahkan bahwa kita akan menyanyikan Lagu Lain, lagu anak - anak dek! bukan lagu Tragedi ituuu. Gumam saya dalam hati.
Tapi yasudahlah, saya tetap memberikan Sugesti Positif agar mereka tak mengingat Kejadian Naas itu lagi dan tetap bangkit, semangat dan ceria sebagaimana mestinya anak - anak seusia mereka.
![]() |
| Beberapa adik - adik Sibalaya Utara seusai Mengaji |
Seusai Shalat Magrib,tepat dimalam terakhir penugasan saya dan rekan - rekan Relawan LLDIKTI Wilayah Kopertis 3 di Desa Sibalaya Utara, ada sekitar 15 orang adik - adik datang menghampiri saya, dan Relawan UNJ Rescue (Ali, Muhtar dan Fandi) yang Stay menjaga Posko yang berada di depan Kantor Kecamatan Tanambulava, Sigi. Mereka datang masih menggunakan Peralatan Shalat. Mukena dan Peci. Tak lupa pula Al-Qur'an dan Iqra ditangan mereka.
"Kak, Ayok ajari kami mengaji." Ucap mereka Kompak sekali.
"Waduh, kan kakak udah bilang hari ini kita libur mengaji dulu. Kak Icha nya mau Istirahat dulu." - Jawab Ali.
"yaaaaaaaaaaaaaaaah.......... yaudah deh." yaoke, kali ini kekecewaan terpancar dari Raut Wajah mereka.
Setelah itu, sebagian besar dari mereka pulang. Dan beberapa dari mereka tetap Stay menemani kami. Saat itu saya belum memberi tahu kepada mereka bahwa malam ini adalah malam terakhir saya berada di Desa Sibalaya Utara. Pas sekali mereka yang Justru malah datang menghampiri saya di Posko.
Malam itu, saya minta kepada mereka untuk diajari Bahasa Kaili. Logat dan kalimatnya hampir mirip Bahasa nya orang Makassar, Bahasa Bugis. Namun ternyata, ini lain. Saya yakin, di Zaman Millenial seperti saat ini, saat pertama kali bertemu Bahasa baru, pasti yang ditanya adalah........
"Kalo Bahasa nya (Saya Cinta/Sayang kamu) apa?" Ya gak sih? hahahaha
Kemudian saya menyakan hal itu kepada mereka, dan mereka menjawab "Aku Nippokonoku, kak!".
Yaoke, saya langsung mengatakan "Aku Nippokonoku, adik - adik Sibalaya Utara!!" , "Aku Nippokonoku juga, Kak Icha!" dan mereka langsung memeluk saya, erat. Tidak menjadi pengecualian yang Laki - laki pun juga ikut memeluk sayaaa! TERHARU! SUNGGUH! :')
Kejadian tadi membuat saya semakin sedih, dan tidak tega memberi tahu mereka bahwa Esok Hari saya tidak akan menemani mereka lagi disini. Tapi, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus menyampaikan ini kepada mereka.
"Besok aku pamit pulang ya............ Semoga secepatnya Kak Icha bisa main lagi kesini......"
Mereka semua terdiam dengan raut wajah sedih.
"Kak Icha jangan Pulang. Disini saja sampai Akhir hayat."
"Yah, kalau Kak Icha pulang. Sepi Sudah."
"Kak, jangan pulang. Sudah, disini saja tinggal disini."
"Kakak pulang, kami sedih."
"Kakak Cantik, sudah sudah ya disini saja."
YAALLAH, RASANYA GAMAU PULANG :"(
Mendengar kalimat - kalimat itu terlontar dari Mulut mereka, rasanya betul - betul TIDAK INGIN PULANG. Tapi itu suatu keharusan :')
"Doain aku ya supaya bisa kesini lagi, nanti kita bermain, belajar, dan mengaji bersama - sama lagi. okey?" saya hanya bisa berkata seperti ini sambil mencoba membendung air mata agar mereka tidak tambah sedih.
Kebetulan Ali merupakan salah satu anggota UKM Photography di Kampusnya, nah terbayang sudah untuk mengakhiri kesedihan ini, saya harus mengajak mereka ngapain.....
Shap Bosq. Masalah teratasi. Sungguh Dramatical karena saat saya mencoba menenangkan mereka dengan ber-foto. Salah satu dari Amanda, menitihkan Air mata seraya berkata, "Kak Icha mirip sekali dengan Kak Dewi. Mahasiswi KKN waktu lalu. Dia juga baik, Cantik, sama seperti Kak Icha. Coba aja Kak Icha kayak Kak Dewi, 1 Bulan dia tinggal disini."
Saya kira Drama ini segera berakhir, ternyata ini membuat saya tidak dapat membendung air mata. Dan akhirnya tumpah juga dihadapan mereka :') Lalu mereka memeluk saya, dan seketika hening.
Keheningan memecah saat rekan - rekan Relawan lain sudah pulang dari Tugasnya yang membuat mereka akhirnya terpaksa pulang. Seusai salim, mereka langsung bergegas pulang. Terkecuali, Amanda. Dia memeluk saya erat untuk yang terakhir kalinya sebelum pulang.
"Nikmat mana yang kamu Dustakan?" Mengenal, dan Dikenal. Mengenal orang - orang baik dan sayang kepada saya. Dan Dikenal, Insyaallah sebagai orang Baik juga di Mata Mereka.
Di tahun ini, saya dipertemukan oleh Manusia - manusia hebat, si Gerombolan Krucils yang Baik Hati dan ternyata bisa bersikap sangat Manis. Semoga Allah mempertemukan kami dalam keadaan yang lebih baik lagi. aamiin........
Semoga mereka menjadi anak - anak yang Soleh, Solehah, Pintar, dimurahkan segala Rezeki kepadanya, disehatkan Jiwa dan Raganya, dipanjangkan umurnya, diberkahi hidupnya, dan mereka Tumbuh Dewasa sebagaimana mestinya.aamiin...
Lirik lagu Mengenang Tragedi 28 September 2018
Sore itu, surya hampir tenggelam
Di Pantai Talise Donggala
28 September 2018
Di Sulawesi Tengah
Tiba - tiba
terasa bumi berguncang
Meluluh lantakan tanah kaili
Hiruk pikuk manusia
berlari tanpa arah
Tak tahu harus kemana
Tanah terbelah
Rumah rata dengan tanah
Air laut meluap seakan marah
Jembatan Kuning terpisah dua
Masjid apung hampir tenggelam
Akibat dahsyatnya Bumi beronta
Lebih seribu jiwa
jadi korban bencana
Banyak yang kehilangan saudara
Pengungsi dimana - mana
Mengharap bantuan kita
Semoga semua ini jadi pelajaran
Untuk kita Manusia

























Komentar
Posting Komentar