FIRST
TNGGP (TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO) 24 JUNI
– 26 JUNI 2011
Kamis
itu hari sangat cerah , secerah hatiku saat itu.
Lengkap sudah barang – barang yang sudah ku persiapkan sejak
malam. Logistik tak ada kekurangan, barang – barang pribadi tak ku biarkan satu
pun tertinggal dirumah.Telah lengkap semua barang – barang ku, saatnya
berpamitan kepada orang – orang dirumah. Setelah itu, aku pun bergegas pergi ke
Sekretariatan Pecinta Alam disekolahku, dimana aku dan kawan – kawan berkumpul
sebelum melakukan pendakian.
Sore pun menjelang, barang – barang dan logistic lengkap
semua. Peserta pendakian tak ada seorangpun yang masih tertinggal. Perjalanan kami saat ini dengan jumlah peserta
6 orang ( aku (icha) , kak luna , abang faiz , abang ari , abang lucken , abang
devid ). Kali ini yang memimpin perjalanan adalah bang Ari. Sebelum berangkat,
tak lupa kami meminta perlindungan dari Allah SWT sang pencipta alam semesta
agar kami selalu dilindungi dari segala macam marabahaya.
Perjalanan pun dimulai, dengan start di terminal Kampung
Rambutan dan berakhir di TNGGP ( Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango). Hatiku merasa cemas sekali, karena ini adalah
kali pertamaku mendaki gunung , menikmati alam dengan berjuang. Fyuuuuuuh ……..
Sampailah kita di palang Taman Nasional Gede Pangrango,
dengan menaiki angkot berwarna kuning ,kita akan tiba di kantor TNGGP. Di dalam
angkot ternyata ada 2 orang Mahasiswa dan 1 orang Mahasiswi yang ingin naik ke
gunung yang berada di cibodas itu.
Takmungkin kami melanjutkan perjalanan dimalam itu juga,
karena kami belum mengurus administrasinya. Dan akhirnya kami memutuskan untuk
menginap di warung yang terletak di parkiran kendaraan objek wisata TNGGP. Warung
itu bernama warung Surya Kencana. Seorang Ibu berserta 1 anak perempuannyalah
yang mengelola warung itu. Dalam keadaan dingin dan lapar, akhirnya kami
memesan 6 porsi nasi goring beserta teh manis hangat. Ternyata 1 porsi nasi
goring itu cukup banyak, sehingga banyak butiran nasi yang masih tersisa
dipiring kami. Tetapi tak untuk seorang faiz, saking laparnya 1 piring nasi itu
habis di lahap nya sendiri .. *subhanallah*
Pada malam itu udara sangat dingin. Dengan memakai jaket
tipis, aku seperti sedang diajak berkelana oleh angin, menikmati udara malam
kala itu.. Sungguh senang hatiku, mataku yang sempat tak terpejamkan, akhirnya
terpejamkan walaupun hanya sejenak.
JUM’AT
– 25 JUNI 2011
Sinar matahari kembali menyinari bumi yang sempat hilang
oleh malam. Kami semua terbangun oleh mimpi, teringat masih mempunyai janji
dengan alam. Kami bergegas mandi , RE-pack dan kemudian langsung menuju kantor
pusat TNGGP.
Masih pukul 08.00 kami bergegas cepat menuju kesana. Langkah
pertamaku saat keluar dari warung itu terasa berat. Aku pun mengatakan kepada
diriku sendiri “suatu saat aku akan berkunjung kembali kesini”. Langkahku masih
sangat berat saat masih berjalan di jalan beraspal rusak itu.. ihh
Sesampainya kami di TNGGP, salah seorang dari kami memutuskan
untuk bertanya kepada pengurus nya. Alangkah kesalnya kami saat mendengar bahwa
kantor akan dibuka setelah terlaksananya senam pagi disana. Hwaaaaaaaaaaaaa
*dalamhatimenangis* hiks :’(
Plan kami hancur ! Gagal ! -_-
Aku berjanji dalam hati bahwa aku akan kembali lagi kesini
dengan mengunjungi Gunung Pangrango bersama teman-teman ku yang lainnya.
Start di pagi itu sangatlah tidak mungkin. Saat itu kami
langsung bergegas menuju sebuah tempat yang masih berada diruang lingkup TNGGP.
Disana kami beristirahat sejenak ,sembaring menunggu dibukanya kantor. Sedangkan para lelaki itu mengurus
surat-surat.
Tak terasa sudah 3
jam aku dan luna menunggu para lelaki
itu yang tak kunjung datang. Jujur saja saat itu aku merasa sangat cemas, aku
takut pendakian pertama ku ini gagal. Tak lama setelah aku bergumam sendiri ,
mereka datang.. Yippyyyyy :D
Tetapi waktu kami dipersingkat, rencana mendaki gunung gede
dan pangrango sekaligus ,pupus .. Dan akhirnya kami memutuskan gunung gede lah
yang kami pilih. Hatiku mulai gembira lagi, semangatku menjulang tinggi. Impian
ku untuk menggapai puncak gunung sebentar lagi tercapai. :D
Perjalanan pun dimulai.
Pos penjaga di jalur cibodas sudah menunggu kami. Waaw ,
jantung berdebar – debar . Surat resi yang kami terima saat registrasi ,kami
berikan kepada bapak penjaga pos disana. Bapak itu menegur ku, “dek (dengan
menunjuk ke a rah ku) umurnya berapa?” lalu aku menjawab “14 tahun pak!” bapak
itu kembali bertanya kepadaku “mau naik samasiapa? Jangan naik sendirian ya,
resikonya tinggi kalo sendirian.” Aku pun tertawa terbahak – bahak dan menjawab
“yaiyalaaaaah pak! Saya naik sama senior – senior saya. Ini juga pendakian
pertama saya , lagian si bapak bisa aja nih. Hahahha… “ “hahaha oh yasudah, hati – hati ya dek” dengan sigap
aku menjawab “SIAP!”
Langkah pertamaku begitu berarti. Dengan hati yang sangat
riang ,aku menyemangati diriku sendiri yang belum tau kuat atau tidaknya sampai
ke atas. Disepanjang jalan aku selalu memperhatikan disetiap kiri dan kanan
jalan. Banyak habitat – habitat binatang atau tumbuhan yang jarang sekali
kulihat. Tetapi banyak sekali manusia – manusia yang menganggap habitat mereka
adalah tempat sampah. Keharusan seorang pendaki yang membawa turun kembali
sampah – sampah bekas mereka sendiri sepertinya masih sering diabaikan. Masih
banyak sekali sampah berserakan disepanjang jalan. Sungguh miris nasib habitat
hewan dan tumbuhan disini.
Disepanjang perjalanan, kamera digital ataupun kamera
handphone tak pernah mati. Selalu kami sempatkan untuk berpose dimanapun kami
berada, sebagai kenangan dan bukti bahwa kami telah sampai kesana .
Pukul 12.02
Sampailah kami di pos pertama yang dinamakan pos Telaga
Biru.
Telaga Biru adalah danau yang berada tak jauh dari shelter pada saat – saat tertentu dapat berubah warna menjadi indah. Tetapi shelter itu tak seindah danau nya yang banyak dipenuhi oleh sampah – sampah dan beraromakan tak sedap >,<. Iyuuukkhhhhh ,sungguh dapat menggangu kesehatan. Banyak coret – coretan pada dinding shelter, palang yang bertuliskan “TELAGA BIRU” itu pun sudah tak terlihat rupanya. Tak dapat ku pungkiri masih banyak orang yang mengaku Pecinta Alam, tapi kelakuan mereka tak mencintai alam.
Telaga Biru adalah danau yang berada tak jauh dari shelter pada saat – saat tertentu dapat berubah warna menjadi indah. Tetapi shelter itu tak seindah danau nya yang banyak dipenuhi oleh sampah – sampah dan beraromakan tak sedap >,<. Iyuuukkhhhhh ,sungguh dapat menggangu kesehatan. Banyak coret – coretan pada dinding shelter, palang yang bertuliskan “TELAGA BIRU” itu pun sudah tak terlihat rupanya. Tak dapat ku pungkiri masih banyak orang yang mengaku Pecinta Alam, tapi kelakuan mereka tak mencintai alam.
Karena sudah waktunya jam makan siang kami membuka peralatan
masak, mengeluarkan logistic, kemudian memasaknya. Kegiatan ISOMA
(IStirahat,SOlat,MAkan). Saat itu diriku sedang kedatangan tamu,olehkarna itu
aku tidak dapat melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim. Selesai makan,
kami membereskan kembali perlengkapan kedalam cariel ( tas besar yang bertengger dipundak kami.
Tak lama kemudian, seorang laki – laki keturunan timur
tengah yang didampingi wanita bercadar datang menghampiri kami. Dengan maksud
ingin bertanya berapa lama lagi untuk dapat menempuh perjalanan menuju air
terjun cibeureum with speaking English gitu deh. Tapi tak seorang pun dari kami
menjawabnya dengan benar. Hahahahaha …….. Kemudian mereka pun meninggalkan kami
dengan wajah yang benar – benar bingung :D
Setalah itu kami melanjutkan perjalanan.
Pos kedua adalah pos Panyangcangan. Dengan penuh semangat
kami menempuh jalan yang diselimuti oleh pohon – pohon tinggi dan lebat itu.
Sesampainya kami di pos ,kami rolling cariel dan daypack. Tak lama kami
beristirahat di pos itu, karna waktu yang tak memungkinkan kami untuk berlama –
lama disana.
Siang itu matahari semangat sekali menerangi bumi, teriknya
dapat menembus hutan yang cukup lebat pepohonannya ini. Saat itu aku ingin
menjadi seperti matahari, yang semangat menyinari bumi. Aku ingin menjadi pohon
tua yang kokoh, tetap kuat walaupun sedang rapuh.
Disepanjang perjalanan, berdiri kokoh 3 pos bayangan yang
tak terurus. Pos besar setelah Panyangcangan adalah pos air panas. Dengan hati
gembira, ku langkahkan kaki ku dengan berbalut sepatu track tebal
melewati jalan yang dilalui oleh air yang cukup panas, dilengkapi batu – batuan licin. Alhamdulillah yah udah sampe di penghujung jalan *syahrinimodeon* :D. Waktu kami disempatkan untuk berpose pose. Yuhuuu~~
melewati jalan yang dilalui oleh air yang cukup panas, dilengkapi batu – batuan licin. Alhamdulillah yah udah sampe di penghujung jalan *syahrinimodeon* :D. Waktu kami disempatkan untuk berpose pose. Yuhuuu~~
Sungguh miris pos AirPanas itu sungguh tak terurus. Hampir
semua shelter di Gn Gede – Pangrango ini tak terurus. Selesai berpose kami
melanjutkan perjalanan.
Pukul 15.37
Kami melanjutkan perjalanan. Menelusuri hutan yang sungguh
asri. Setelah Airpanas kami akan menemukan pos yang bernama Kandang Batu. Entah
mengapa dinamakan Kandang Batu.
Ternyata pos Kandang Batu tak jauh dari pos Airpanas. Dengan
nafas yang ter-engah engah, perlahan-lahan aku menginjakan kakiku di tanah.
Ucapan yang keluar dari bang Lucken seperti sebuah banyolan dan lelucon untuk
kami. Hahaha
Bang Lucken adalah senior ku di Organisasi Pecinta Alam
disekolahku. Dia adalah sesosok manusia yang tinggi, kurus dan care sama
siapapun yang care sama dia. Sungguh, trip pertama ku ini sangat tak terasa
karena kehadiran dirinya yang selalu menyemangati siapapun lewat ucapannya itu.
Ya walaupun gayanya agak selenge’an dan agak anarkis terkadang hahaha.
Berbeda dengan Ari. Sesosok pria yang agak menyeramkan,
berbadan agak besar ini selalu mengingatkanku dan mengajarkanku tentang artinya
hidup. Yang harus berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Meskipun sering
kali dia terlihat bringas didepan banyak orang :P.
Heh malah ngomongin orang! :P
Saat di Kandang Badak sungguh sangat berbeda dari
shelter-shelter sebelumnya. Tak ada shelter besar kokoh yang berdiri disana.
Yang ada hanya hamparan tanah yang cukup luas untuk tempat mendirikan tenda.
Bunyi gemericik air terdengar. Ternyata setelah Kandang Batu
ada air terjun kecil yang hadir disana. Nama air terjun itu …… hmm *lupa*. Yang
aku ingat, perjalanan menuju Kandang Badak adalah batu batu besar nya yang
licin. Waw! Excelent!
Sekitar pukul 16.20
kami sudah berada di jalanan menanjak yang di hiasi batu-batu besar itu.
Perjalanan menuju kandang badak lumayan berat. Membuat nafas
ku ter engah-engah. Di perjalanan, kami
mengejar waktu karena takut terjebak malam. Aku bersama abang Faiz
dipersilahkan jalan terlebih dahulu, karena kak Luna pada saat itu sudah
nge-drop.
Semakin lama Matahari semakin menghilang. Jarak pandang kami
menjadi pendek. Kami langsung bergegas penuh semangat. Tak jauh dari Shelter
Kandang Badak suasana sudah berubah, kiri dan kanan ku adalah semak belukar
yang tak terlihat jelas makhluk apa saja yang ada disana. Headlamp telah
terpasang.
Pukul 18.05 Sesampainya
di Kandang Badak
Keempat lelaki itu dengan sigap mencari tempat dan
mendirikan tenda. Kami berdua hanya menggigil kedinginan dan menunggu tenda
jadi. Setelah tenda sudah berdiri, kami mengeluarka logistic beserta alat
masaknya.
Kopi susu, the manis hangat menjadi sasaran utama penghangat
tubuh kami. Tak jauh dari tenda kami terdapat tiga tenda lainnya. Satu tenda
berada agak jauh dari tenda kami, sedangkan dua lainnya berada di depan dan di
belakang kami.
Malam itu keadaan tak terlalu sepi karena angin malam selalu
menemani. Api unggun telah di siapkan di depan tenda kami. Wow!
Saat nya menyajikan makanan…
Dari resort Cibodas kami telah membeli beberapa lauk yang
simple dalam cara penyajiannya. Tempe orek adalah menu yang ku santab beserta
nasi. Hoaaaaam..
Angin malam mengajak ku untuk larut dalam dekapan malam.
Tubuh ku bergemetar karena kedinginan. Ke lima temanku pun ikut tidur didalam
tenda, dengan banyak nya orang di dalam tenda tak berpengaruh dengan udara
disini. Brrrrr dingiiinnn
Dengan memakai sleeping bag berwarna merah yang cukup tebal
dan jaket yang tipis, aku larut dalam buaian mimpi indah yang telah menanti.
Namun, kaki dan tubuh ku tak kunjung diam. Menggigil aku dibuat nyaa ..
*halaaah*
Rupanya abang ari melihat kaki dan tubuh ku sedang bermain
bersama angin. Tanpa kusadari, ½ dari tubuh ku masuk ke dalam caril. Waw!
Awesome! ….
Tetapi aku sempat menyesal karena terlebih dahulu tidur.
Kata abang Faiz bintang dimalam itu sungguh banyak dan indah. Langit-langit
yang bertabur bintang seperti sedang menyapa dari atas sana. Semak belukar yang
tak nampak jelas bentuk dan rupanya .
Sabtu,
25 Juni 2011
Pukul 06.00
Pagi menyambut hari, udara dingin masih menyelimuti kami dan
seperti nya tak ingin lepas dari kami. Brrrr….. Udara disini sungguh
jauuuuuuuuuuuuuh berbedadengan udara pagi di kota. Jika di kota yang sering
kita liat, dengar dan rasa kan hanyalah kegaduhan akibat suara-suara kendaraan
yang tidak sehat. Tetapi disini berbanding terbalik, sungguh berbanding
100000000®
daaah. Suasana pagi yang hening dan sunyi membuat hatiku merasa tentram dan
damai.
Mata yang telah terpejam untuk sejenak, kini harus ku
paksakan untuk melihat keesaan Allah yang telah membuat alam bagi aku, dia dan
mereka yang sungguh menakjubkan dan menawan.
Udara dingin membuat kami merasa lapar. Pagi itu pula, cheff Ari Kuncoro
yang berasal dari Kudus akan membuat
hidangan breakfast kami. Di dalam caril kami masih ada cumi asin dan bumbu
tempe goreng. Di kolaborasikanlah
keduanya dengan sempurna. Dan rasa nyaaaa .. Deliciouussss… Dan setelah breakfast, kami packing ulang
kembali untuk mempersingkat waktu.
Pukul 09.12-10.24
Peralatan makan dan masak telah selesai dicuci. Sleeping bag
telah di lipat da di masukan kembali kedalam caril. Sampah-sampah dimasukan
kedalam kantong sampah. Tenda dan Frame nya telah di bereskan kembali. Setelah
selesai semua, kami bergegas meninggalkan tempat.
Pukul 10.24
Baru di awal saja, treknya sudah membuat sudut 45◦.
Huaaaaaaaaah! Lelah rasanya melihat trek yang sungguh membuat ku down L. Namun waktu tak
terasa berlalu begitu cepat. Hampir ½ jam berlalu, terlihat Plang penunjuk
arah. Jika ke kiri menuju Gn. Gede, jika ke kanan menuju Gn. Pangrango.
Perjalanan kita pagi ini menuju tanjakan rantai terlebih
dahulu. Banyak orang menyebut nya tanjakan setan, mungkin karena jalurnya yang
terjal dan sungguh memacu jantung untuk berdegub sangat kencang oleh karena itu
banyak para pendaki yang menyebutnya tanjakan setan.
Cukup lama juga perjalanan kami dari kandang badak menuju
tanjakan rantai.
Pukul 13.16
Akhirnya kami sampai di bawah tebing yang cukup curam.
Sempat kami mengantri dan menunggu beberapa saat dengan pendaki lain karena
jalur yang sempit dan terjal. Di jalaur itu hanya terdapat tali tambang yang
menghubungkan bagian atas dan bawah tebing. Dari bawah, kami dapat melihat
pohon yang sudah menunggu di atas. Aku dan kak Luna naik ke atas dengan
dibantu tali webbing (tali pengaman
pengganti harnest). Sementara itu, abang Faiz sedang mendokumentasikannya.
Aku sampai terlebih dahulu di pohon itu karena aku di
persilah untuk terlebih dahulu naik. Banyak orang cerita kalau udah sampai di
tanjakan rantai merasa deg-degan atau takut atau segala macam lah. Tapi aku
tidak merasa takut sedikitpun. *woo somboooonggg*.
Mungkin karena aku sudah terbiasa latihan wall climbing di
sekolah jadi tak merasakan apapun. *yuhuuuu*. Setelah kami semua berada di
pohon itu, kami berisitirahat sejenak dan mengeluarkan beberapa gaya berpose
untuk di abadikan. View Gunung Pangrango yang terlihat jelas dari pohon itu
sangatlah indah. Hmmm …. Sayang sekali kami tidak sempat berkunjung kesana.
Tak lama kemudian, ada segerombol ibu-ibu berumur sekitar
31-37 tahun yang memakai baju seragam dan menggendong caril ukuran 60 liter.
Saat itu aku hanya dapat memandangi segerombol ibu-ibu yang hamper memasuki
usia tua namun masih tetap terlihat muda. Jadi malu aku kalau masih muda saja
sudah menyerah dan tidak dapat sekuat itu. Hihihihi
Selepas itu kami melanjutkan perjalanan.
Tidak jauh dari tanjakan rantai, sudah tercium bau/aroma
Belerang yang khas. Bau nya seperti bau kentut (gas yang keluar dari lubang
dubur). Sedikit mau muntah juga sih. Hahahahaha!! :D
Setelah melewati rimbunan pohon yang cukup lebat itu, awan
putih terlihat nampak jelas dari kejauhan. Wihiiiiiiiiiiyy !! Semakin riang
hatiku pada saat itu. Dan semakin semangat pula aku untuk berjalan menuju
puncak…
Tetapi, sekali lagi.. tak dilupakan untuk berpose-pose -__-
Pukul 14.33
Akhirnya kami sudah sampai dan berada di ketinggian 2958Mdpl. Yuhuuuu~
Sesampainya di puncak. Aku tak sempat berpose karena
berbagai alasan. Alasan pertama karena aku tak bias mengeluarkan amarah kepada
abang Faiz yang sungguh menyebalkan saat di perjalanan!!! Isssh >_< yang
bias kulakukan hanya menangis. Tetapi mereka fikir aku terharu karena sudah
sampai di puncak. *gakjugasih* Huuuh!! Menyebalkan!! Gara-gara dia jadi gak
mood buat foto di puncak Gede!! -_- Alasan kedua karena aku lelah dan hanya ingin
istirahat saja.
Miris sekali saat melihat plang disana. Hanya penuh dengan
coretan pendaki-pendaki yang tak bertanggung jawab! Tidak lama juga kami di
puncak. Karena keadaan waktu sudah semakin sore. Akhirnya kami memutuskan untuk
turun ke Alun-Alun Surya Kencana (padang bunga Edelweis).
Pukul 14.56
Kami kembali turun ke
Alun-alun Surya Kencana. Cukup terjal juga trek nya. Tetapi hanya saja posisi
kami saat itu menurun. Fyuuuuuhhh…. Lelah namun mengasyikan!!
Saat memasuki kawasan Surya
Kencana. Sungguhhh…. Aku terkejut dengan semua bunga Edelweis yang menghampar
luassss disaaanaa….. Kini aku melihat bunga yang di dambakan para
pendaki-pendaki untuk yang pertama kalinya. Hwaaaaaaaaa~~ Sungguh agung alam
ciptaan Allah swt ini…..
Angin yang berhembus melewati
lembah sungguh menusuk kedalam tulangku. Membuat kaki ku sedikit lemah untuk
berdiri.
Karena kita kehabisan air
minum. Akhirnya, yang laki-laki bergegas membawa derigen air untuk diisi. Aku
dan kak Luna hanya menunggu mereka datang. Cukup lama juga menunggu mereka
datang. Sedangkan waktu sudah menunjukan pukul
15.47. huwaaayoooo!!
Panikkk!!
Untung aja gak lama-lama
banget mereka pada ngambil airnya -_- udah mana laperr, dinggin juga.
Campuraduk dah! -_-
Setelah udah pada ngumpul
semua. Barulah kami berjalan sedikit kearah Barat Alun-alun Surya Kencana.
Mencari tempat yang pas dan cocok untuk kami menggelar lapak.
Pukul 16.32
Akhirnya kami mendapatkan
lapak untuk membakar semua parafin-parafin yang ada dan menghabiskan semua
logistic yang masih tersisa didalam cariel. Jujur. Saat itu makanan yang dibuat
sungguh banyak. Kenyang banget jadinyaa. :S Gak jauh dari tempat camp kami.
Terdapat api unggun yang dibuat bapak penjual nasi uduk disana. Dengan bersusah
payah bapak itu mencarikan kayu bakar untuk para pendaki yang merasa kedinginan
agar dapat menghangatkan sedikit tubuhnya di api unggun ini. Aku pun menikmati
nya :D
Tak terasa waktu semakin
gelap. Saat itu sudah menunjukan pukul 18.00
tepat! Bapak penjual nasi uduk ternyata juga ingin pulang. kami berniat
agar kita jalan berbarengan sampai dibawah. Kami turun melalui Gunung Putri.
Kami pun mempercepat langkah.
Headlamp telah terpasang
dikepalaku. Sungguh terasa sedikit menegangkan. Di tengah perjalanan, niat kami
untuk berjalan berbarengan dengan bapak penjual nasi uduk itu malah putus
ditengah jalan. Bapak itu meninggalkan gerombolan kami. Huh!
Ditengah-tengah perjalanan
kami sering menemukan jalanan bercabang. Banyak sekali! Tetapi sang Leader kami
berusaha untuk membawa kami ke jalan yang benar. Saat itu aku masih kuat untuk
membawa tas ku. Tetapi abang abang itu memaksaku agar tak membawa tas agar aku
tidak ngedrop di perjalanan. Wesslaah aku tak bisa menolak. Karena memang saat
itu mata ku sudah mulai agak buram. Entah mengapa.
Jarang pandang ku dan
headlamp ini sungguh pendek. Itu semua membuat penglihatanku sedikit
bermasalah.
Jalur Putri terkenal dengan akar-akaran nya yang besar dan
jalan yang cukup menanjak dan turunan yang cukup terjal.
Saat itu aku tak memikirkan hal-hal yang buruk! Tetapi ada
sedikit rasa khawatir pada diriku sendiri. Karena pada saat itu diriku sedang
Haid. *AgakHororJugaSih* *weeww*
Alhamdulillah pospos bayangan sudah kami lewati.
Saat trek sudah agak mendatar dan kelap-kelip lampu kota
terlihat. Bahagiaa sekalii rasanyaaa…. Yossssh!! Perkebunan daun bawang milik
warga tlah terlihat dan pos pun tlah nampak!
Sambil berjalan kami semua pun sambil berdendang,
menyanyikan lagu apasajaa untuk menghilangkan penaatt. Di sepanjang perkebunan,
bintang-bintang seketika menghiasi langit yang gelap menjadi terang benderang.
Aku berasa seperti lagi ada di Planetarium. Hihihihi J
Sebelum itu, bapak penjual nasi uduk bilang ke aku “Kalau
turun nya siang mah paling cuma Dua jam dek, tapi kalo turunnya malam, bias
sampe Empat jam dek!”. Dan ternyata ucapan bapak itu benar. Dari pukul 18.00 kami baru sampai di pos
Registrasi Jalur Gunung Putri pukul 22.58.
sssshhhh weeeww!!
Pukul 22.58
Di pos registrasi. Aku dan kak Luna langsung menuju kamar
mandi. Tentunya aku mengganti pembalut ku yang sudah penuh sekalii -…- Kurasa,
tak ada satupun yang fisiknya saat itu benar-benar sehat. Selesai di Pos Putri
kami berpamit kepada bapak petugas yang ramah, karena beliau telah memberikanku
segelas air hangat.. hiiihii..
Kami pun turun menuju perkampungan warga sekitar Gunung
Putri. Tak kusangka jam segitu masih ada tukang bubur yang buka. Sungguh
beruntungnya kami bertemu dengan bapak tukang bubur yang sengaja buka dilarut
malam. Saat itu kami di suguhkan oleh 6
mangkok bubur yang enak. Hmm Yummyyyy ˘ف˘.
Niatnya setelah makan akan mencari angkot
untuk kami sampai kebawa. Tetapi ternyata malam itu tak ada angkot dan memaksa
kami untuk tidur dan menginap di depan rumah salah satu warga disana. Kami
meminta izin kepada salah satu penduduk disana agar tidak terjadi salah faham.
Ulalalaaa~~
Tidur didepan rumah warga dengan
beralaskan SleepingBag yang tipis.. sssshhh ….. Malam itu kami tertidur.
Pulaass sekalii…
Minggu,
26 Juni 2011
Pukul 04.52
Pagi menjelang.
Matahari mulai muncul perlahan lahan. Kami langsung bangun
dan menunggu angkot. “Tin tin”. Suara klakson mobil berbunyi. Kami langsung
bergegas memasukan cariel dan daypack kedalam mobil angkot.
Lima menit berlalu. Kita telah sampai di pintu gerbang
Cipanas. “ALHAMDULILLAH”.
Pukul 04.57
Lima menit berselang, bis menuju Jakarta datang. Wohooooyy!!
Di dalam bis aku manfaatkan untuk tidu. Hwaaaa! Lelah sekali
rasanya.. Tak terasa aku tidur cukup lama, saat aku membuka mata. Pukul 07.48 kita telah sampai di
Terminal Akhir yaitu terminal “Kampung Rambutan”.
Pukul 07.48
Kami jalan menuju terminal Busway “Kampung Rambutan”.
Perjalanan menuju “PalPutih” ditempuh menggunakan Busway
sekitar ±
Satu jam.
Pukul 08.51
Kami sampai di halte Busway Palputih. Kami sampai di
Muhammadiyah Satu tepatnya pukul 08.56.
Tentunya setelah adanya upacara pelepasan tentu ada upacara penyambutan. Ya
tentu!
Setelah upacara penyambutan selesai, berdoa kepada Allah
karena tlah diberi keselamatan hingga tiba di sekolah. Kami bergegas ke
sekretariatan.
Aku menyempatkan diri untuk mandi terlebih dahulu, makan,
bercerita-cerita dan membereskan
barang-barang. Fyuhhh ………….. Selesainya, aku berpamitan untuk pulang
kepada abang-abang dan kak Luna. Huuuhhh sungguh senang pendakian pertama ku
walaupun banyak kejadian yang membuat hatiku jengkel.
Pukul 09.14
Perjalanan ku belum berakhir. Aku pun harus pulang sendiri
dengan angkutan umum. Banyak sekali orang-orang yang memandangku. Entah
mengapa, tetapi kubiarkan mereka terpaku dan melihat ku. Huahahahaha.. J
Aku naik metromini jurusan Manggarai. Turunlah di shelter
“Bengkel”.
Dan saat itu pula! Aku harus berjalan kaki lagi agar dapat
sampai kerumah. Orang-orang pun memandangku seperti saat didalam bis. Tapi I
don’t Care! Hahahha….
Sesampainya dirumah. Mama langsung menyambut bahagia, karena
anak nya kembali dengan selamat dan membawa sejuta cerita yang tak kan ada
habisnya.
-the end-










Komentar
Posting Komentar