Di sebuah Kota yang kecil hiduplah seorang kakek yang bernama Kakek Abidin. Dia adalah orang yang sangat mencintai Binatang. Ada suatu ketika dia merasa iba dan kasihan terhadap para binatang yang berada disekitar rumahnya yang tak memiliki tempat tinggal. Sehingga dia membuatkan beberapa kandang cantik, bagus dan aman untuk beberapa hewan. Kelinci, Ayam, Bebek, Sapi, Kambing dan Monyet. Mereka sangat menyukai kandang yang Kakek buat untuk mereka. Setelah semua kandang telah selesai dibuat, serentak mereka mengucapkan "Terimakasih kek....", "sama-sama..." jawab kakek sambil tersenyum.
"Kakek Abidin baik banget ya sama kita, sampai-sampai dia membuatkan kita rumah seperti ini.." gumam Ayam kepada semua temannya.
"Iya betul! Dia itu kakek yang baik, meskipun sudah paruhbaya tapi masih berusaha memberikan tempat tinggal yang aman untuk kita.." sambung Bebek.
Tiba-tiba ada seekor Ular melintas dihadapan mereka. Ular itu melintas dengan Lesu dan penuh luka disekujur badannya sambil menangis. "huhuhuhuhu......". Mendengar tangisan itu, Bebek merasa iba dan kasihan terhadap Ular. "Hai Ular, namamu siapa? mengapa disekujur tubuh mu penuh dengan luka?" tanya Bebek. "Hai Bebek, namaku Mora.Tadi pagi aku sedang melintas dihutan untuk mencari matahari pagi karena saat itu tubuhku sangat dingin. Tiba-tiba ada Manusia yang langsung datang memukulku dengan sebuah kayu sehingga aku terluka seperti ini. Mungkin dia berfikir bahwa aku akan melukainya, padahal hanya ada 3 alasan mengapa aku meninggalkan tempat persembunyianku. 1. Aku mencari Panas dari Sinar Matahari. 2. Aku hanya ingin melintas, dan yang ke 3. Aku lapar ingin mencari makan. Aku sedih bek, ternyata dihutan pun sudah menjadi tempat yang tak aman untukku. " Jelas Mora yang sedang merintih kesakitan.
"Yaampun Mora... Kasihan sekali kamu, yasudah nanti aku akan bilang ke Kakek Abidin. Siapa tahu beliau bersedia membuatkan kandang juga untukmu." Bebek membantu menenangkan Mora.
Namun teryata teman-teman Bebek yang lain tidak setuju dengan tindakan dan ucapan Bebek kepada Mora. "JANGAAAAN" teriak mereka serempak.
Ayam menarik buntut Bebek. "Bek, kamu gimana sih? Kamu kok membantu Mora? Memangnya kamu mau menjadi santapan Mora? Dan memangnya kamu mau mencelakakan Kakek Abidin juga?" tanya Ayam dengan nada agak tinggi. "Yam, Mora kan Ular yang baik. Mana mungkin dia mau mencelakakan kita semua disini." jawab Bebek lembut.
"Ah bisa saja dia sedang berpura-pura baik dihadapan kita saat ini." "Astagfirullah yam..... Kamu tidak boleh berburuk sangka seperti itu. Tidak baik! Lagipula jika Mora mendengar perkataan mu tadi mungkin dia bisa saja bersedih yam!".
Ayam tidak menghiraukan perkataan Bebek dan kemudian meninggalkan Mora dan Bebek pergi.
"Bek, kamu tidak usah membantuku deh. Sepertinya teman-teman mu disini tidak menerimaku." Mora merasa sedih.
"Enggak kok Mora.. mereka cuma belum terbiasa saja. Yuk kita kerumah Kakek Abidin." ajak Bebek.
"Assalamualaikum... Kakek Abidin...." Ucap Mora dan Bebek kompak. "Wa'alaikumsallam... Eh ada Bebek disini. Lho? Ini siapa? Kok tubuhmu penuh luka seperti itu? Sini Kakek obati." Kakek Abidin berusaha mengobati Luka di tubuh Mora.
"Jadi begini kek, aku menjadi korban ketidak tahuan manusia. Saat aku sedang melintas di hutan, tiba-tiba ada seorang manusia yang memukulku dengan sebuah kayu. Karena aku takut hal itu terjadi lagi, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan hutan dan kemudian bertemu dengan Bebek disini.Aku merasa hutan sudah tidak aman untuk menjadi tempat tinggalku kek.." jelas Mora.
"Oh iya, kakek mengerti.. Kasihan sekali ya kamu.. Yasudah, untuk sementara waktu kamu tinggal bersama Bebek dikandangnya. Sementara kakek akan menyelesaikan sebuah kandang untukmu." WAAAAH Alhamdulillah, terimakasih kek!" jawab Bebek bahagia. "ta... tapi kek.. sepertinya binatang yang lain tidak menerima keberadaanku disini." Mora merasa pesimis. "Oh begitu.. Iya, nanti Kakek akan berbicara dengan mereka."
Bebek, Mora dan Kakek Abidin berjalan bersama menuju halaman rumah. "Assalamualaikum.. Halo teman-teman semua. Mengapa wajah kalian terlihat cemberut seperti itu? Ada apa?" tanya Kakek. "Itu lho kek, kami tidak suka jika Mora tinggal disini bersama kita, kami takut Mora akan melukai kami dan juga kakek." Sapi angkat bicara. "Lho? memangnya kenapa?Mora itu Ular yang baik.. Lagian mengapa kalian bisa bilang kalau Mora adalah Ular yang jahat? Kalian tidak boleh berburuk sangka kepada Mora. Apalagi kalian baru mengenal Mora. MOra pun sudah berjanji bahwa jika dia tinggal disini dia tidak akan berbuat macam-macam disini. Iya kan Mora?" "Iya kek, Insyaallah aku tidak akan macam-macam, apalagi sampaiu melukai teman-teman disini." Mora berjanji.
"Nah, kalian sudah dengar kan? Jadi sekarang tolong ya kalian hidup dengan rukun dan damai. Allah itu sangat menyukai kerukunan dan kedamaian antar sesama, masa kalian tidak?" kata Kakek.
Dengan nada agak jengkel Monyet menjawab.' "Iya kek, yaudah. Mora, kamu boleh tinggal disini." "Asyik! terimakasih teman-teman!" jawab Mora bahagia.
Akhirnya mereka hidup rukun berdampingan dihalaman rumah Kakek Abidin.
-ending-
Pesan Moral :
- Tidak boleh berburuk sangka terhadap sesama
- Saling tolong menolong adalah perbuatan yang mulia
Salam Ciloloyoh!
-BuLs-
Komentar
Posting Komentar