![]() |
| Pura Ulun Danu, Bratan, Bali. |
_________________________________
Tak pernah menyangka saya dipertemukan secepat ini oleh Bali. Saya fikir harus menunggu paling lama 1 tahun lagi untuk merasakan dan melihat langsung kehidupan disana. Alhamdulillah Allah mempercepat kesempatan ini kepada saya.
Saya melihat Bali bukan hanya sekedar Pulau Eksotis yang amat dicintai oleh manusia dimuka bumi ini. Tapi Bali juga merupakan Pulau yang penuh dengan keunikan di dalamnya.
Beberapa manusia menjadikan Bali sebagai tempat pelarian. Ada pun yang menjadikan nya sebagai tempat melepas penatnya kehidupan Ibukota. Pun tak sedikit juga yang menjadikannya sebagai tempat mengadu nasib dan mencari peruntungan. Semua yang berkunjung ke Bali, datang dengan Alasan dan Keadaan yang beragam.
4 hari lalu, merupakan kali pertamanya saya bertandang ke Bali. Saya datang beramai - ramai, tidak sendiri.
"Ingin melepas penat". Itulah alasan kami.
Luas Pulau Dewata ini sebesar 5.780.06 km, dan hanya sepersekian dari total luas wilayah yang saya dan rekan - rekan kerja saya kunjungi dalam Waktu yang sangat singkat.
Luas Pulau Dewata ini sebesar 5.780.06 km, dan hanya sepersekian dari total luas wilayah yang saya dan rekan - rekan kerja saya kunjungi dalam Waktu yang sangat singkat.
________________________________________________
Love at The First Sight.
Sedari dulu, saya membayangkan Pulau Bali adalah Pulau yang penuh dengan hening dan kedamaian. Nyatanya, memang itulah yang saya rasakan, ketika menginjakan kaki disana.
Suasana Bali saat ini memang sangat jauh berbeda dengan suasana pada tahun 1930-an, saat Pulau ini baru ditemukan oleh para Ilmuan dan Peneliti.
Apalagi wilayah sekitar Bandar Udara dan bagian Selatan, sudah padat. Sesak dengan Hotel - hotel yang berdiri dan Kendaraan Wisatawan yang berlalu - lalang.
Kepadatan itu tentu tak mengurangi minat siapapun yang datang ke Bali.
Meskipun saat ini ramai, tetapi saya masih bisa merasakan hening dan damainya pagi di Pulau Dewata ini. Sungguh, rasa damai itu saya rasakan sejak awal datang kesini.
Ohiya, selain karena dapat merasakan Self-Healing nya. Ornamen - ornamen yang ada di setiap sudut bangunan dan ruang yang ada di Bali, membuat mata saya berbinar - binar! Rapih, dan men-detail!
Beragam tradisi, kesenian dan kerajinan tangan di Bali juga berhasil membuat Hati saya tertinggal disana. Sungguh, keren dan bagus sekali!
______________________________________________________
[b;li] = kakak laki - laki
Di Bali, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Kami saling mengenal sudah cukup lama, kalau saya tidak salah ingat sejak 12 tahun silam. Dia seorang anak laki - laki yang dilahirkan oleh Ibu yang berasal dari Bali yang memiliki 2 adik perempuan.
Pertengahan Tahun 2019 ini, kami sempat bertemu. Di Jakarta, dan kemudian bertemu kembali di Penghujung Tahun ini. Ini bukan suatu kebetulan, karena memang saya yang menginginkan pertemuan kami terjadi lagi.
Akhir tahun lalu, kami juga sempat bertemu. Tapi bukan di Jakarta atau di Bali. Melainkan di Kota Kembang, Bandung. Laki - laki ini juga yang menemani saya beberapa wakt ketika saya sedang menyelesaikan urusan saya disana.
Bli, dia adalah seorang anak Laki - laki yang Tangguh, meskipun sering kali juga merasa Rapuh.
Setelah menyelesaikan Sekolahnya di Kota Kembang, Bli, bekerja. Di Kota yang sama.
Di mata saya, Bli adalah anak Laki - laki yang Kuat. Dia mampu melewati semua Ujian hidup yang Allah berikan kepadanya. Ya meskipun Emosinya seringkali tak dapat di Atur, dia berani mengambil keputusan plus resikonya, dan lalu menjalani kehidupan barunya.
Dipertengahan tahun ini, Bli, memutuskan untuk pindah, dan menetap di Bali. Dia meninggalkan pekerjaannya saat itu dan mencari peruntungan di tanah kelahiran Ibunya.
Di Bali, Bli, sempat tinggal dirumah Saudara dari Ibu selama beberapa bulan dan menawarkan jasa Ojek untuk kehidupannya sehari - hari. Hingga sampai pada akhirnya dia mendapatkan pekerjaan dengan Bayaran yang jelas untuk dapat membayar Kost- yang lebih dekat dari tempat kerjanya.
Tidak salahkan, saya menyebut Bli sebagai anak yang Tangguh?
________________________________________________
Cerita Pertemuan kami yang (mungkin) untuk yang terakhir kali.
Sejak saya tahu bahwa saya akan berangkat ke Bali, saya sudah mulai mengabari, Bli. Saya betul - betul tidak pedulikan apakah dia mau menemani saya selama disana atau tidak. Yang saya lakukan, cukup megabari bahwa saya akan pergi kesana, dan ingin bertemu dengannya.
Saya senang bukan main, malam di hari pertama, akhirnya saya bertemu dengannya. Namun ternyata, Bli, tidak senang bertemu dengan saya. Dan dugaan saya benar. Keesokan harinya, sikapnya berubah. Saya kabari, dia jawab dengan sangat singkat, dan banyak cara lain yang dia lakukan agar saya tidak terus memintanya untuk bertemu lagi.
"Malam ini, mau mampir ke Hotelkah? Saya sangat senang apabila kamu datang kesini, dan tentu saya sangat sedih apabila kamu tidak datang. Ini malam terakhir saya."
Namun, dia hanya mengabaikan. Sekalinya membalas, dengan nada membentak.
Bagaimana bisa tenang hati saya, datang dengan niat baik, lalu berakhir dengan cara seperti ini.
Saya bingung, apa salah saya, Bli? Apa mungkin kamu mau, ini menjadi pertemuan kita yang terakhir?
________________________________________________
Dear Bali,
Saya akan datang kembali secepatnya untuk merasakan kembali kehangatan dan kedamaian disetiap sudut, dan ruang, dengan waktu yang lebih lama. Saya berjanji.
Dear Bli,
Saya akan tetap datang kembali, meskipun kamu tak ingin bertemu saya lagi. Namun, bila kamu sudah selesai membaca tulisan ini dan ingin kembali, jangan sungkan untuk datang mengabari. Mungkin saja hati ini masih mau membuka diri untukmu lagi.

See you again in Bali :))
BalasHapus